Mengenal ISO, Aperture (Diafragma), & Shutter Speed
Posted by Elbanadha
1. ISO (International Organization for Standardization)
ISO adalah sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. Jadi tiap kamera punya sensitifitas ISO yang berbeda-beda tapi kalo kalian pengen hasil foto kalian terlihat bening, usahakan selalu menggunakan ISO yang rendah. Kalo ISO tinggi maka cahaya yang masuk semakin banyak tapi semakin besar resiko terjadinya noise atau bintik-bintik di foto.
Kalo diibaratkan ISO ini seperti kain. Coba kalian perhatikan kain kan ada kaya pori-pori nya kalo kalian tarik kainnya maka pori-pori kain tersebut semakin lebar dan cahaya bisa tembus. Tapi jadi ada bintik-bintik cahaya yang masuk itu yang disebut noise. Paham kan?
Pokoknya kalo kalian motret usahakan nilai ISO nya rendah, defaultnya sih 100 nilainya. Kecuali dalam keadaan sangat amat terpaksa. Misalkan kalian berada di cahaya yang remang-remang, nah mending kalian beli flash eksternal deh buat nambah sumber cahaya daripada naikin nilai ISO nya. Flash eksternal juga penting untuk nambah skill dan kreatifitas fotografi kalian.
2. Aperture (Diafragma)
Aperture adalah bukaan diafragma lensa yang terdapat dalam lensa fotografi. Ukuran bukaan diafragma pada lensa kamera tersebut mengatur jumlah lintasan cahaya yang lewat. Secara garis besar Aperture adalah bukaan diafragma pada lensa kamera. Biasanya nilai aperture ini ditandai dengan “f/angka”, misalnya f/22, f/11, atau pada smartphone biasanya terdapat di angka f/2.6 hingga f/1.8. Nah sekarang yang jadi pertanyaan lanjutan adalah apa arti huruf f/ beserta angka dibelakangnya itu? Angka dibelakang huruf f/ tersebut adalah nilai dari bukaan lensa atau diafragma pada lensa, yang mana semakin besar angka dibelakang f/ maka bukaan lensa akan semakin kecil dan begitupula sebaliknya. Hehe bingung ya? Oke mimin jelaskan lebih lanjut agar kalian lebih mengerti.
Menurut Wikipedia, besaran bukaan diafragma atau aperture merupakan hasil pembagian dari panjang fokus lensa atau focal length dengan nilai aperture itu sendiri. Misalnya jika focal length pada lensa adalah 100mm dan nilai aperture adalah f/4, maka itu artinya aperture akan terbuka dengan diameter 25mm (100 dibagi 4). Maka semakin kecil angka dibelakang f/, bukaan lensa akan semakin besar. Begitupun sebaliknya, semakin besar angka dibelakang f/ maka bukaan lensa akan semakin kecil. Ukuran bukaan diafragma (aperture) biasanya dikalibrasi dalam f-numbers atau f-stop, yaitu angka-angka kecil tertulis pada lensa fotografi seperti f/32 (F32), f/22 (F22), f/16 (F16), f/11, f/8.0, f/5.6, f/4.0, f/3.5 , f/2.8, f/2.0, f/1.8, f/1.4, dll. Semakin besar f/angka (f-angka) semakin kecil lubang diafragmanya, begitu juga sebaliknya, semakin kecil f/angka (f-angka) semakin besar lubang diafragmanya.
Secara teori, bukaan lensa yang lebih besar akan memungkinkan lensa menangkap lebih banyak cahaya yang nantinya akan diteruskan menuju ke sensor. Jadi gambar yang diambil dengan settingan aperture besar akan terlihat lebih terang. Sekali lagi, dengan catatan settingan ISO dan shutter speed adalah sama. f/22 + ISO 100 + Shutter speed 1/2 detik = Gelap | f/11 + ISO 100 + Shutter speed 1/2 detik = Lebih terang | f/2.0 + ISO 100 + Shutter speed 1/2 detik = Paling terang
Jadi apakah itu artinya lensa dengan bukaan kecil berarti memiliki kualitas lebih jelek? Belum tentu. Itu tergantung pada kebutuhan kita dalam mengambil foto. Settingan aperture yang terlalu besar dengan keadaan pencahayaan yang terlalu cerah akan menyebabkan gambar terlihat terlalu terang dan itu bukanlah hal yang baik. Itu artinya memang aperture yang lebih besar bukan berarti akan menghasilkan gambar yang lebih baik. Apalagi dengan adanya varian atau settingan aperture ini akan memungkinkan kita untuk bisa bereksperimen dengan kamera dan menghasilkan gambar yang lebih kreatif.
3. Shutter Speed
Shutter Speed adalah kecepatan bukaan rana yang dapat mempengaruhi pencahayaan yang sempurna, mengontrol blur, dan membuat efek yang menarik. Salah satu hal yang sangat penting dikuasai seorang fotografer adalah shutter Speed yang merupakan salah satu dari tiga elemen segitiga eksposur. Tepat didepan sensor kamera terdapat tirai yang disebut shutter/rana. Ketika kita memotret maka rana akan menutup dan membuka. Shutter speed lambat berarti rana akan terbuka lebih lama(cahaya masuk lebih banyak) dan shutter speed cepat berarti rana akan terbuka lebih cepat(cahaya masuk ke sensor lebih sedikit).
Pengaturan Shutter Speed
Shutter speed dapat diatur dalam satuan detik atau bahkan sepersekian detik. Sebagai contoh shutter speed 1/100 berarti bahwa rana akan menutup pada 1/100 detik atau 0,01 detik. Setiap produsen tentu menawarkan berbagai range shutter speed mulai dari seperseribu detik sampai dengan beberapa detik. Kamera digital SLR juga mempunyai bulb mode yang memungkinkan kita untuk menahan bukaan rana sesuai keinginan kita. Pada mode auto kamera akan berusaha menentukan shutter speed terbaik untuk mengambil gambar. Namun sayangnya pengaturan tersebut tidak selalu benar, karena foto bisa saja berakhir dengan gambar yang blur dan under exposure/minim cahaya. Pengaturan menggunakan mode manual adalah solusi dari masalah diatas. Tidak hanya manual semi manualpun juga sudah bisa mengatasi masalah tersebut.
Terjadinya Blur
Blur dapat terjadi karena goyangan kamera atau goyangan tangan fotografer. Kita dapat mencegah terjadinya blur dengan pengaturan shutter speed yang cepat. Pengaturan tersebut juga tergantung dari focal length suatu lensa. Jadi semakin panjang focal length maka semakin cepatlah settingan shutter speed. Sebagai contoh kita memotret dengan focal length 200mm, maka shutter speed minimum yang kita gunakan adalah 1/200, bisa 1/210,1/211 dll. agar tidak terjadi blur akibat goyangan tangan/subjek. Settingan shutter speed bisa lebih rendah dari focal length asalkan kita memakai tripod. Lebih lanjut tentang mendapatkan gambar yang tajam dapat anda baca disini. Ketika kita ingin membekukan aksi seorang olahragawan, maka shutter speed cepat harus kita gunakan.
Pencahayaan
Kita harus benar-benar yakin bahwa subjek mendapatkan cahaya yang baik. Shutter Speed lambat berarti lebih banyak cahaya masuk danbegitu pula sebaliknya, jadi hindarilah gambar over exposure atau under exposure. Selalu ingat bahwa pencahayaan bukan hanya masalah Shutter Speed, namun juga Setting ISO dan Aperture.
Efek Kreatif
Dengan menggunakan setting shutter speed rendah anda dapat menghasilkan gambar yang sangat kreatif. Gambar yang dihasilkan akan nampak lembut, sangat baik untuk memotret bintang dan air terjun. Dalam kasus fotografi landscape, kita akan memerluakan bantuan filter neutral density saat menggunakan shutter speed lambat. Hal ini mencegah agar tidak terjadi over exposure terutama pada bagian langit karena fungsi dari filter ND sendiri adalah untuk mereduksi jumlah cahaya yang memasuki sensor.

